Rasaku memang melukai

Apa yang tak lebih melukai ketika hatimu patah
Bahkan tergores saja, sering sekali berderai air mata
Bukankah, kamu ini kuat? Kenapa kamu saja bisa terluka
Lalu, apalagi aku apalagi hatiku
Aku sering sekali mendengar
Tinggalkan masa lalu, bergeraklah maju
Tapi sayangnya, teori selalu saja kalah
Bagaimana aku bisa melaju, jika kakiku saja masih kau pegang
Waktu aku mendekap, rengkuhmu melonggar
Bahkan terkadang terasa hanya aku yang mendekapmu
Tapi ketika tanganku belajar melepas
Kenapa kamu mencoba kembali menarikku
Tolong, pergilah jauh
Aku tahu bahkan aku sadar
Itu akan mengoyak luka, menghabiskan banyak airmata juga pasti menghilangkan tawa
Tapi apalagi gunanya
Kita hanya, terbiasa melalui hari bersama
Entah apa yang sebenarnya ada
Hatimu kemana hatiku dimana
Belajar melupakanku, walaupun sebenarnya akupun sulit
Sudah terlalu banyak korban dibalik cerita ini
Sudah terlalu banyak luka
Apa belum cukup tangisku setiap malam
Harusnya, aku menutupnya sendiri
Tapi, hatiku terlalu sempit untuk membawa ini sendiri
Entah dengan apa aku menjelaskan
Entah harus dengan apa aku mengatakan
Untuk keberapa kalinya aku hancur
Aku remuk, tak bersisa
Kepada siapa lagi aku menitipkan harapku
Tak ada, tak ada lagi
Kenapa kecewamu terlampau sakit seperti ini
Luka, rasanya luka sekali
Apa begitu hancurnya aku
Sampai-sampai aku berfikir
Apa ini yang dinamakan cinta? Apa ini?
Maafkan aku,
Aku terlampau jatuh, terlampau terhempas kebawah
Aku mati, harapanku habis

Apa semudah itu aku menanggalkan harapku
Apa sekuat itu aku sampai mudah menyerah
Tolong, kuatkan aku
Kuatkan aku dengan bahagiamu
Aku lelah, aku pecah
Lalu kenapa aku masih saja bisa tersenyum saat terluka
Lalu kenapa aku masih saja bisa tertawa saat terluka
Tidak seperti sebelum-sebelumnya
Tangis yang akan membawa tawa
Sedih yang akan terganti suka
Bahagia yang kan menggantikan lara
Kamu masih percaya bahagia bukan?
Pikirkanlah jika kamu tetap menetapkan harapmu
Tak ada yang salah disini
Tak ada orang maupun waktu
Hanya, terkadang aku yang salah, aku yang bodoh
Memantaskan apa yang sesungguhnya tak pantas
Tak usah bermuram cinta
Tempatmu sekarang adalah masa depan
Tempatmu sekarang adalah bahagiamu, senyumanmu
Kamu tau kedewasaanku adalah bertahanku
Kamu tau ketulusanku adalah membebaskanmu
Kamu tau sabarku adalah menantimu
Tidak, aku tidak menyalahkanmu untuk apapun
Aku tau, rasaku mungkin memang melukai

You May Also Like

0 komentar

Pages