Senja di Gerbong Kereta

Lalu, harus pulang kemana aku ketika rumah yang aku tuju tak pernah menungguku. Apa yang bisa aku ceritakan ketika telinga yang aku harap bisa mendengarku mendadak tak ingin mendengarkan apapun. Dengan siapa aku berbagi ketika aku ingin menangis. Apa harus bahagiaku terganti menjadi sebuah kecukupan, bahagiaku terganti benda terganti makna. Sakit rasanya.. apa kamu mengerti rasaku? Tentu tidak, jika bahagiamu selalu hangat dengan canda dan tawa bahagianya rumah. Dibangku yang tak pernah luput dari kesendirian ini, aku seperti merasanya. Bersama ketika dibutuhkan untuk kembali, dan setelah itu ditinggalkan dibiarkan kosong dan tak pernah dijadikan tujuan pulang, hanya dijadikan sebagai tempat singgah. Pernah bayangkan jika hatimu seperti itu? Luka, pasti. Mungkin, aku yang terlalu keras kepala dan menganggap aku adalah satu-satunya perempuan yang selalu dikelilingi banyak orang tapi kadangkala selalu merasakan kesepian. Mungkin aku satu-satunya perempuan yang befikir bahwa akulah perempuan sia yang jatuh karena kecewa. Selamat, jika kamu tak mengerti rasa yang aku punya. Entah, semenjak wanita itu datang dihidupku, hidup kami. Semuanya berubah bahkan berbeda. Maafkan aku yang selalu menduakanmu dengan sakit hatiku, maafkan aku yang menjadikanmu pelarian ketika aku rapuh. Gunung dan pantai.. kapan aku bisa benar-benar merasa bahwa kalian adalah mahakarya yang bisa aku pahami. Anak kecil, kapan aku bisa tertawa puas dengan atau tanpa berfikir apa aku ini sedang dimana aku ini dan bagaimana hidupku selanjutnya. Selamat malam Tuhan, semoga aku bisa tersenyum setelah aku terbangun dari mimpimu yang nyata ini.

You May Also Like

0 komentar

Pages