Teruntuk Bidadariku; Ibu

Kutitipkan sayangku pada hujan
Kutitipkan cintaku pada gemuruhnya
"Selamat malam ibu, selamat hari ibu" aku duduk memandangnya seraya tersenyum lalu kucium kedua pipinya yang semakin tirus setiap harinya. Ibuku tersenyum pula diranjangnya menatapku dalam. Dia berbaring, melepas rasa lelahnya yang setiap hari berkeringat hanya untuk mencarikan kepingan rupiah untuk menyenangkanku, begitu katanya.
Ibuku tetap terlihat cantik, meskipun semakin banyak keriput yang terlihat diwajah dan tangannya, semakin terlihat pula kantung mata dikelopak matanya yang menandakan bahwa dia mengantuk ataupun lelah, tapi tetap dia bidadari dunia tercantik yang pernah aku lihat. Aku beruntung sekali memilikinya.
Tapi, Ibuku adalah pembohong besar.
Sering kali dia membohongiku ketika aku masih kecil. Ketika hanya tersisa dua ayam potong dimeja yang disisakan ibu khusus untuk kami berdua. Sering sekali ibu menyuruhku memakannya tapi dia hanya berdiam. Ketika ibu melihat aku lahap makan dan makananku habis ibu selalu bilang. "Masih lapar kau nak? Ambil saja ayam ibu, ibu sudah kenyang" begitu katanya. Aku dengan polosnya mengambil saja jatah makan yang seharusnya dimakan ibu, lalu sesekali aku memandangnya. "Tak apa, kau makan saja. Ibu sudah makan tadi." Sekali lagi ibu meyakinkanku. Aku yang entah apa, tetap memakannya dan begitu lahap. Ibu mengiringi aku memakan jatahnya dengan sunggingan senyum yang tak pernah pudar. Kau tau betapa ketika aku dewasa sering kali aku berfikir. Bagaimana bisa aku percaya bahwa ibu sudah makan ketika dari pagi sampai sore dia selalu disampingku? Dan aku semakin yakin, ibu selalu membohongiku hanya untuk menyenangkanku dan ibu tak pernah peduli dengan apa yang akan didapatkannya.
kau tau bukan, betapa ibu mencintaimu sedalam dalamnya.
Aku semakin besar justru semakin bertanya. Apa yang sudah aku berikan pada ibu? Apa aku sudah bisa membuatnya bangga padaku? Kapan aku bisa mandiri tanpa merepotkannya lagi? Semakin banyak pertanyaan yang datang seperti menghujam fikiranku. Yah, apa yang bisa aku lakukan.
Terimakasih ibu, hanya itu yang bisa anakmu berikan untuk saat ini. Doakan anakmu yang naka ini bisa cepat membahagiakanmu. Aku mencintaimu, bu. Tak terkecuali juga untukmu  lelaki terkuat yang pernah aku miliki. Aku mencintaimu, yah.


tertanda,
Anakmu yang terkadang tak tau terimakasih.

You May Also Like

0 komentar

Pages