Dua Jiwa Penikmat Senja

Tak besarkah harapanku ketika memimpikan bisa bertemu kamu disebuah senja yang mengiringi kesenduan kita. Kau bermain sedang aku bernyanyi. Tak bisa aku bayangkan betapa bahagianya, suatu saat kelak waktu itu tiba.
Bukankah harapanku hanya sekecil itu. Menghabiskan detik waktu duduk berdua dan mengalunkan ritme lagu yang menggambarkan kebahagiaan kita, yang tak pernah mati meski sering kali jarak menjadikan kita terpisah karenanya
Aku ingin mendengar lagu cinta yang kau buat dan pertama kali kau dengarkan padaku, katamu inilah lagu yang sengaja kau buat untuk kita. Lagu yang hanya teruntuk telingaku, tak ada yang bisa, kecuali aku.
Derungan waktu yang terus berjalan, semoga tetap mengarahkan kita pada satu jalan. Kabut yang terkadang menghantui, semoga tak membuat kita menyalahi jalan karena kita memiliki arah yang berbeda.
Tapi tetap, caramu bermain dan caraku bernyanyi yang selalu kau sebut tak lebih baik dari suara gitar fals yang engkau mainkan.
Tak pernah, aku tak pernah menyesal menjadi bagian kekurangan yang menjadikan kita satu. Kamu adalah salah satu caraku berbahagia, kamu adalah caraku untuk membuatku jatuh cinta berulang-ulang. Jatuh cinta kepada seseorang yang sama, yang tak pernah berubah. Sampai waktu kita selesai sekalipun.
Aku tak peduli, ombak apa yang akan meluluhlantakan cinta ini, cinta kita. Aku tak peduli, terpenting dari hidupku adalah bersyukur memilikimu, bersyukur Tuhan masih berbaik hati membiarkan aku sebentar saja merasakan lembutnya jemarimu dan kedamaian yang selalu engkau ciptakan dari peluk yang sering kali kau rebahkan padaku. Aku tak pernah menyesal, karena disitulah aku mengerti rasa pulang. Pulang yang tak berarti rumah tapi seakan jauh lebih damai sekedar pulang dalam bentuk fisik.
Aku tak pernah menyesal Tuhan menganugerahkan cinta yang ada diantara kau dan aku. Sampai kapankah aku masih memiliki waktu untuk menjadikanku pantas untukmu. Apalah aku ini, manusia bumi yang teramat beruntung memiliki pangeran langit sepertimu. Duniamu terlalu tinggi, aku tak sanggup menggapainya tanpamu dan kuasa Tuhan.
Jika ia, hendaklah tetap menjadi bintang yang turun kebumi. Tak seperti aku, manusia bumi yang berharap bisa menjadi bintang. Anugerah terbesar yang pernah aku miliki adalah memilikimu, tak pernah kurang bahkan lebih.
Tetaplah menjadi pengiring lagu yang sering aku senandungkan dikala senja setiap hari ditemani dua kursi kayu dan meja usam yang terlalu setia menjadi saksi bisu kisah manusia dunia yang bercinta dengan pangeran langit. Mengagumkan dan terus terkenang.
Tetaplah menjadi pangeran, aku rela jika bersamaku hanya membuatmu turun kebumi, aku membiarkanmu meninggalkanku dengan rasa yang tak pernah berkurang apalagi berpindah.
Kelak, aku akan menyusulmu untuk menjadikanmu pangeranku dan menjadikanku permaisurimu.

Tertanda,
Manusia bumi yang teramat mencintai pangeran langit sepertimu

You May Also Like

0 komentar

Pages