Kita yang (Hanya) Sekedar

Dear, Mr
        Sudah lama tidak pernah ada temu diantara kita. Sudah lama rindu tidak pernah tersampaikan dengan nyata. Aku sedang membuka ingatanku kembali tentang masa lalu. Aku tidak memaksamu untuk ikut. Karenanya kau tak pernah ingin tahu. Aku yakin kau hampir menutup suratku untuk itu. Tapi, sebelum kau benar-benar menutup suratku ini atau bahkan ingin membuangnya aku ingin menceritakan sesuatu padamu.
        Masih ingat kau ini hari apa? Iya ini hari minggu, bukan itu maksudku. Kau ingat ini tanggal dan bulan apa? Iya ini 15 februari, i know. Kau hanya sejengkal itu membalas tanyaku. Mungkin benar, hari ini adalah hari yang seharusnya aku lupakan sejak dulu seperti kau melupakan ini, Mr.
        Sudahlah sepakati saja akhirnya, kita masih apakah sudah berlalu. Tapi memang, mungkin aku yang masih saja menganggap bahwa kita masih ada yang nyatanya adalah bayangan semu. Aku tidak tau, masih saja waktu belum membuatku bangun dari mimpi yang sejatinya aku bangun dari imajinasiku sendiri. Tentu saja kita tidak pernah bertemu bahkan dalam dunia mimpi sekalipun. Kita berasal dari dunia imajinasi yang sangat berbeda dan bahkan berlawanan.
        Aku masih berdiam karena nasihat kakaku tempo hari masih terngiang-ngiang ditelingaku sampai sekarang, ia bahkan pernah mengatakan ini disuatu waktu yang pernah terlewati."De, jaga hati orang-orang yang dulu pernah membuatmu tersenyum setiap hari, jaga hati pula orang-orang yang dulu sering kali membuat tangismu pecah ditengah malam. Itu tandanya ia adalah sesorang yang benar-benar hidup didalam hatimu meskipun teruntuk yang sudah pergi atau masih tertinggal, meski ia masih peduli ataupun tidak". Aku tidak akan lupa susunan kata yang terangkai dalam beberapa kalimat barusan, sasarannya teramat tepat meski hanya terdiri dari seuntai kalimat yang sederhana. Aku hanya ingin bilang, aku mengenalmu lebih baik dari yang kau kira. Dan semoga kamupun juga.
        Kemana larinya kamu teruntuk hari ini, Mr. Apakah kamu teramat menyesali hari ini pernah ada ditahun tahun sebelumnya? Jika jawabanmu adalah iya, maka meluruhlah aku. Tapi tak apa, sudah kubilang berulang kali bahwa aku akan belajar bersahabat dengan ia meski sulit bahkan sampai aku seringkali merasa jenuh. Ia teramat sulit untuk aku taklukan sepertimu. Seorang yang teramat berbeda, teramat berlawanan, teramat menyebalkan. Itu kau, Mr.
Semoga tahun ini menjadi tahun terakhir teruntuk kita yang hanya sekedar, teruntuk kita yang sejatinya tak pernah hidup didalamnya. Teruntuk kita yang sudah tak lagi berdua sebab waktu, masa, maupun jarak. Aku mencintai kita, kita yang teramat berbeda.




Tertanda,
Pemimpi dari masalalu

You May Also Like

4 komentar

  1. Kunyuk wis ngomen dawa2 malah klalen login

    BalasHapus
  2. Saya suka bahasanya, meskipun tedengar bahasa lama tetapi malah terasa sastranya.
    keep posting

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mas jaya, masih belajar juga. pasti, thanks for support^^

      Hapus

Pages