Ialah ia, ialah nabilah, ialah aku

Aku datang dalam kedamaian, ingin menceritakan tentang dua manusia yang pernah saling membahagiakan, bahkan pernah saling menyakiti.
Ialah nabilah hanya seorang perempuan biasa yang bertubuh pendek dan tidak terlalu cantik, juga seorang lelaki bernama fikri yang memiliki tubuh hampir 180 cm. Sangat berbeda dengan sosok nabilah yang juga memiliki kulit putih tak seperti fikri yang lebih memiliki kulit kecoklatan. Benar, mereka adalah dua manusia yang amat berbeda tapi sempat disatukan.
Suatu pagi dihari rabu nabilah sedang tidur pulas setelah semalaman tidak bisa tidur nyenyak karena sakitnya, tiba tiba handphonenya berbunyi dan ia terbangun lalu mengangkatnya dengan mata masih dalam keadaan memejam:
"Hallo, maaf siapa?"
"Kamu ngga perlu tau aku siapa." Kata fikri seperti itu.
Nabilah diam, sambil berfikir siapa orang yang menelefon pagi-pagi seperti ini dan sepertinya ia mengenal suara barusan. Setelah sekian detik ia diam, ia tau bahwa dengan siapa ia berbicara. Ya, ia sedang berbicara dengan seseorang yang pernah ia cintai berlebihan yang sekejap membuatnya terbangun dari rasa kantuknya.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya fikri tiba-tiba
"Belum." Nabilah menjawab
"Kamu unfollow aku sama dc bbm aku ya? Ya bagus lah."
Seketika nabila diam, kata-katanya tak begitu menyakitinya tetapi tetap membuat nabila sepersekian detik terdiam. Lalu ia menjawab
"Buat apa ada bbm kamu kalo cuman bikin aku liat dp kamu cewe? mentionan sama cewe?"
Sedikit banyak percakapan mereka berdua dipagi ini seperti itu. Teramat berbeda tidak seperti biasa-biasanya, fikri lebih sering menghubunginya pada malam hari, tapi tidak untuk kali ini.
Tapi yang masih benar teringat dari percakapan sekedar tadi pagi ialah:
"Kalo aku udah punya pacar aku bakal bilang sama kamu."
"Buat apa?" Tanya nabilah
"Biar kamu punya pacar juga." Begitu jawab fikri.
"Aku ngga bakal nyari pacar hanya karena kamu udah punya pacar." Mantap jawab nabilah
Benar kata nabilah, ia tidak ingin berdua hanya karena melihat orang yang pernah ia cintai begitu dalam sudah memiliki penggantinya, ia tidak ingin menyakiti perasaan dan mematahkan hati seseorang. Sudah cukup kiranya.
Ia pernah begitu mencintai fikri secara mutlak. Hal yang selalu aku cemburui dari fikri ialah masalah barusan.
Aku bermimpi pernah dicintai sedalam itu dalam tidurku, seperti cinta ia kepada fikri. Sedalam itu pula aku memimpikannya.
Semoga cepatlah nabilah memiliki cinta sedalam ia mencintai fikri. Semoga.
Mungkin benar, fikri terlalu pandai bahkan sampai hati membuat ia sejatuh-jatuhnya.
Ialah ia yang sekarang sedang belajar tersenyum ketika seseorang yang pernah ia cintai begitu dalam mulai melepas tangannya dan berjalan mundur. Ia tidak ingin berjalan maju sebab ia teramat takut akan terjatuh dan ia tak bisa berjalan mundur sebab ia akan tenggelam. Ia hanya bisa berdiam, dengan mata berkaca melihat kekasihnya di masa lalu perlahan mengaitkan jari jemarinya dengan seorang perempuan.
Ternyata ia, mereka mengkaitkan tangan mereka berdua tanpa ingin melepaskan. Sudah terlalu lama mereka berpisah.
Meski sekedar hanya mimpi yang menyatukan, meski sekedar hanya dua hati mereka yang mengerti.
Ialah ia, ialah nabila, ialah aku.

You May Also Like

0 komentar

Pages