Perihal Kehilangan

Selamat sudah melewati hari dengan senyum
Selamat sudah bisa terbangun lagi setelah tidur
Aku sudah terbangun sejak satu jam yang lalu tetapi badanku masih saja malam untuk beranjak
Diluar hujan jatuh, berulang-ulang. Tapi ia masih saja melakukannya berulang kali
Seperti daun, ia akan tetap tumbuh dan mencintai angin sebagaimanapun angin akan menggugurkan daunnya
Sebagaimana cinta, ia akan tetap tumbuh bahkan ketika ia dikecewakan
Cinta tidak semudah mengatakan, "aku cinta kamu"
Tidak sesempit itu, cinta teramat luas. Bahkan kata saja sudah tak terhingga untuk mendefinisikannya
Aku teringat tentang cerita-cerita yang pernah aku dengar sejak kemarin
Ialah tentang betapa berartinya seseorang setelah ia pergi
Betapa kita membutuhkan orang yang sudah kita sakiti, membutuhkan orang yang tetap berada disamping meski sudah kau usir berulang kali lewat gerakmu
Seberapa sulit menjadi sosok sebatas mencintai tanpa meminta kembali
Seberapa sulit menjadi sosok yang tak pernah dianggap dan ia tetap ada
Aku teramat bodoh membiarkan orang sepertimu menjauhiku
Aku teramat sombong menganggap bahwa diluar sana akan ada yang mengerti aku lebih daripadamu
Dan aku salah. Kamu adalah satu-satunya cinta yang pernah Tuhan titipkan untukku
Cinta yang tak pernah menganggap bahwa kekuranganku adalah suatu masalah
Cinta yang tak pernah menganggap aku adalah perempuan yang tak sempurna
Aku teramat salah dalam mengartikan cinta yang Tuhan titipkan melewatmu
Dunia benar, satu bulan sepersekian kamu meninggalkan aku. Aku justru bahagia, seperti aku terlepas dari sangkar yang tak berbentuk
Dan waktu itu, kamu terpuruk hingga jatuh. Aku benar-benar membuat hatimu lebur
Tapi, setelah sepersekian bulan yang terlewat. Aku teringatmu, aku merindumu, dan aku baru tersadar bahwa aku telah meninggalkan cinta terbaik yang pernah aku punya
Betapa bodohnya aku melepasmu hanya karena rasa bosan
Sekarang aku benar-benar mengerti apa arti cinta yang sejak dulu tertunjukan lewat tutur kata, pandangan dan teruntuk peluk kita yang pertama dan terakhir
Kau tau, aku tidak pernah merasakan peluk seperti peluk yang aku rasakan dimalam yang sudah berlalu itu
Pelukmu benar, satu-satunya rumah selain rumah secara nyata
Tak perlu aku sebutkan lagi seberapa bodoh aku melepasmu
Seberapa takut aku yang menjadi pecundang untuk mengejarmu
Aku malu, aku teramat malu untuk meminta pelukmu hanya untukku saja
Aku terlambat. Bodohku terlalu lama tinggal. Dan kita selesai
Aku tidak pernah bisa merasakan pelukmu yang selayak rumah
Tatapmu yang menyejukkan dan menenangkan
Aku tidak pernah merasakan pernah mengulang kehangatan itu sampai detik ini
Lukaku seperti terangkat lagi ketika dalam genggamanmu aku melihat jari-jari yang lain, dan bukan jemariku
Aku telah kehilangan cinta, aku telah kehilangan peluk yang selayak rumah.
Aku kehilangan kau untuk selamanya. Dan aku benci
Seharusnya aku tidak pernah melepas genggamanmu, seharusnya aku tidak pernah melepaskan pelukmu dalam malam
Tawamu sudah tak bisa aku miliki
Raga bahkan cintamu sudah tak lagi aku miliki
Merindukanmu adalah kebodohan terburuk yang tidak akan aku lakukan
Sudah ada perempuan manis yang merebut satu shafku dibelakangmu
Ia juga sudah merebut tempatku mengamini doamu disetiap waktu selesai salam
Segalanya selesai sudah tergantikan
Aku perlahan semakin jauh, mataku perlahan tak bisa melihat, ragaku seperti merasakan jarak diantara kita
Dan rasaku, sudah mati semenjak ada ia diantara.

You May Also Like

0 komentar

Pages