#2 Perihal Kehilangan

“Apa?!.” Tanyaku
“Aku rindu dia, Ra. Aku rindu.” jawab Wulan
Ku dengar bagaimana ia mengatakannya dengan susah payah.
“Kamu tau apa yang harus kamu lakuin, Lan. Cinta tak pernah menyakiti. Tak pernah.” Jawabku tanpa berniat memalingkan pandangan dari laju air yang tak pernah berhenti.
“Tapi Ra, cinta ngga segampang orang bilang. Tau apa orang yang udah lama sendiri? rasanya ngelepas yang udah biasa bareng itu susah, banget!.” Jelas Wulan.
Aku tersedak, dia benar.Tau apa orang yang betah berlama-lama sendiri sepertiku tentang cinta, tentang rindu.
Tiba-tiba percakapan berhenti begitu saja, desir angin sampai begitu terdengar menandakan sunyi yang benar-benar lekat. Kulirik wulan, ia hanya menunduk.
        Ini sudah kali ketiga pikiranku melayang setelah beberapa jam yang lalu aku sampai di pantai ini. Menemani Wulan, sahabatku yang sedang patah hati karena di tinggal kekasihnya demi perempuan lain. Sebenarnya ingin sekali aku gampar lelaki itu sejak kemarin, tapi ku tahan-tahan karena bahkan sampai sekarang aku tau, sahabatku ini masih mencintainya teramat dalam. Melihat wulan, aku sampai tak tega. Dia hampir setiap malam menangis melihat orang yang di cintainya berbahagia diatas sedihnya dengan perempuan lain.
"Dasar laki-laki bajingan!” umpatku yang sering kali ingin ku teriakkan ketika melihat Wulan melamun lalu menangis di pojok kamar. Menyakitkan melihatnya tanpa tau bagaimana bisa membantu.
        Aku bersahabat dengan wulan sejak duduk dibangku SMA, Aku tau bagaimana ia, aku paham bagaimana cintanya bermula bahkan sampai berakhir. Lelaki itu adalah salah satu siswa popular disekolah, tentu saja cocok dengan wulan yang dulunya juga merupakan salah satu siswi paling di incar disekolah, sangat berbeda dengan aku yang hanya siswi biasa. Tapi mungkin justru karena itulah, persahabatanku bisa terjalin sampai sekarang.
        Aldy namanya, dia adalah mahasiswi psikologi di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Lelaki yang sudah menjalin hubungan dengan wulan sedari masa sekolah. Wulan sudah berulang kali menangis karena Aldy yang senang sekali mendua di belakang wulan, bahkan di depan wulanpun ia tidak sungkan. Bodoh memang,sudah berulang kali aku menjelaskan bahwa ia lebih baik melepaskan Aldy sejak dulu. Tapi tetap, bahkan sampai ini terjadipun wulan masih saja merindukannya. Ya Tuhan! Cinta macam apa ini.

Tapi yang jelas, melepaskan yang sudah membuat jatuh memang sulit. Mengikhlas yang sudah merekat memang tidak mudah.

        Cinta memang tidak pernah bisa di salahkan sampai kapanpun. Tapi tetap saja, buatku jatuh cinta adalah hal yang teramat sia-sia dan melelahkan. Bagaimana bisa ketika seseorang sudah jatuh, bahkan disakitipun ia akan tetap cinta. Bagaimana bisa ketika seseorang ditinggalkanpun, ia akan tetap menunggu. Bahkan tidak peduli meski ia kembali atau tidak. Mengapa cinta terlahir semenyakitkan itu?. Ku tarik nafas dalam-dalam, rasanya sesak.
        Sering kali kuhabiskan waktu sore dengan duduk dipantai seperti ini sendirian. Sudah kulakukan kebiasaan ini sejak bertahun-tahun lalu, meski awalnya teramat sepi tapi akhirnya aku terbiasa menikmati mentari kembali keperaduan. Menjadi saksi bagaimana cahaya yang menguning, menjadi pengantar pudarnya warna jingga dilangit sampai menghitam. Entah sejak kapan tepatnya, aku teramat mencintai keadaan seperti ini. Tenang, sunyi, menyamankan. Kalau sudah begini, berat sekali rasanya melangkahkan kaki untuk pulang. Pulang? asing sekali mendengarnya kata itu akhir-akhir ini. Tentu saja, aku tak pernah merasakan pulang setelah ayah dan ibu memutuskan untuk berpisah beberapa tahun terakhir. Duniaku hancur seketika itu. Sampai suatu hari, aku bisa merasakan pulang lebih dari sekedar rumah. Pembuat nyaman, penghilang dahaga saat tangis pecah, penghadir senyum ketika layu. Benar, Tuhan menciptakannya sebagai malaikatku, ia diciptakan sebagai alasanku tersenyum disetiap hari, Si Pandai Pemetik Senar. Ah iya, aku teramat mencintainya.. Sampai suatu waktu, ya waktu itu… Ia mengambil segalanya yang tersisa tanpa sisa.
        15 February 2013
        Sore itu, di bawah langit jingga disertai hujan rintik-rintik, juga seikat bunga mawar yang menjadi saksi, tangisku pecah. Deo benar-benar membuat hari-hariku berwarna dan hari ini adalah salah satu bagian dimana kenangan itu begitu lekat dalam ingatanku, dan itu menyiksa.
        Hari ini adalah tepat satu tahun aku menghabiskan waktu berhari-hari dengannya, tawa maupun tangis, suka maupun duka, segalanya sudah kami lewati tanpa ampun. Tak terasa waktu begitu lekas berjalan, aku masih ingat bagaimana ia yang ingin menjadikanku kekasihnya satu tahun yang lalu. Seperti yang biasa aku lakukan. Di sebuah pantai, juga dalam senja, aku memutuskan untuk membagi separuh hidupku untuknya, juga sebaliknya. Hari itu maupun hari ini rasanya masih sama, bahkan semakin haripun rasaku semakin berbunga. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta berulang ulang dengan orang yang sama. Tentu saja, aku teramat beruntung memiliki malaikat seperti Deo dihidupku. Bersamanya, dunia tidak pernah terlalu besar. Bersamanya, masalah tak pernah terasa rumit.
        Menangis lagi, sudah aku ceritakan bagian ini berulang kali dan aku tetap menangis. Cengeng, aku teramat cengeng memang. Aku tak pernah ingin menangis bila teringat masa lalu, sama sekali tidak. Aku selalu ingin menceritakannya dengan senyum, bahkan dengan tawa jika mungkin. Tapi apa, hatiku amat mencintainya, kenangannya teramat banyak dan menyakitkan teruntuk sementara ini.
        Pada satu hari di bulan oktober, tepatnya di hari ulangtahunku yang ke-18. Hari dimana aku kehilangan segala sisa yang aku punya. Tuhan berkehendak lain hari ini, Dia menggambil Deo, mengambil satu-satunya alasanku tersenyum. Tuhan teramat jahat padaku, pikirku.
        Aku masih terlelap ketika suara telefon membangunkanku dipagi buta. Nomor baru, entah siapa, karena masih mengantuk langsung kuangkat saja tanpa pikir panjang.
        Suara di seberang telefon sangat berisik, seperti di sebuah pasar pikirku. Hampir saja kumatikan telefon setelah berulang kali aku mengatakan “Hallo” dan tidak ada respon. Dasar orang kurang kerjaan, mengganggu orang tidur saja pikirku.
“Hallo, ini dengan siapanya Mahendra Deo?” Tanya dari orang tak dikenal yang menelefonku masih dalam suasana keributan.
“Deo? Saya pacarnya. Maaf siapa?” tanyaku sedikit heran.
“Ini saya yang membantu pacar mbak, sekarang pacar mbak sedang berada diambulan menuju RS. Karyadi. Mbak bisa langsung menuju kesana sekarang.” Jawabnya singkat namun membuat aku melongo beberapa detik.
“Siapa sih nih? Ngerjainnya ngga lucu tau nggak!” Jawabku sedikit ketus setelah teringat ini adalah hari ulangtahunku. Tidak ada lelucon yang lebih lucu kupikir.
“Tenan iki mbak, sampeyan rene saiki. Cepet mbak.” Jawab si penelefon dengan logat semarangnya.
        Aku berfikir beberapa menit, mengingat-ingat siapa teman-temanku yang memiliki suara seperti itu. Tapi tak ada kupikir, tak ada temanku yang bisa berbahasa logat semarang sekental itu.
“Bisae di RS. Karyadi? Orang dia lagi pulang ke rumah tantenya di Solo kok. Guyonanmu ki mas ra lucu!” balasku dengan nada sedikit keras.
“Tenan mbak, dia kecelakaan di jalan Ungaran. Tertabrak truk muatan. Motornya honda warna hitam platnya R to? Kalo mbak ngga percaya, mending mba ke RS Karyadi sekarang. Suwun” telefon dimatikan.
        Aku masih diam, aku bingung berbuat apa. Ini masih subuh-subuh dan aku harus kesana sendirian? Entah mengapa tiba-tiba pikiranku buntu, jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Akhirnya aku memutuskan untuk berganti baju dan langsung menaiki motor secepat kilat. Dijalan, tatapanku kosong. Aku bingung dan masih tak percaya. Sampai di RS.Karyadi aku langsung disapa oleh satpam tapi tak kuhiraukan. Setelah selesai memarkir motor aku berlari menuju ruang informasi, menanyakan apa benar ada pasien kecelakaan baru-baru ini.
“Bu, ada pasien bernama Mahendra Deo? Pasien kecelakaan dijalan Ungaran? Tanyaku gugup.
“Sebentar ya mbak.” Kutunggu dengan tak sabar.
“Maaf mbak, tidak ada pasien bernama Mahendra Deo.” Jawabnya
        Sialan, ku umpat berulang kali orang yang menelefonku barusan. Aku terduduk lemas disamping ruang informasi. Menenangkan nafas yang sejak tadi memburu-buru. Jika aku tau siapa orangnya, ingin ku pukul dia sampai babak belur. Kesalku dalam hati.
        Tiba-tiba ada suster yang datang membawa berkas dalam sebuah map ke ruang informasi. Ku perhatikan saja sambil mengatur nafas. Suster itu melihatku. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu memanggilku, dan jantungku berdegup lebih kencang sekarang.
“Maaf mbak, tadi menanyakan siapa?” Tanya Ibu dibalik ruang informasi. “Mahendra Deo.” Jawabku singkat.
“Dia baru saja datang mbak, sekarang sedang berada di ruang UGD.” Jawabnya.
        Kedengarannya seakan dunia runtuh, nafasku sesak, wajahku pucat pasi, badanku tiba-tiba lemas bagai tak bertulang. Aku jatuh kelantai, menangis menderu-deru beberapa menit. Suster yang melintas lantas membantuku bangun.
“Dimana ruang UGD sus?” tanyaku dibalik tangis yang tak kunjung berhenti.
“Disebelah sana mbak” jawabnya.
        Tanpa basa-basi aku langsung berlari di lorong yang teramat sepi, mungkin akan sangat mengerikan bila aku menyadarinya. Sayangnya aku tidak peduli, yang ada dipikiranku hanya satu: Bagaimana keadaan Deo sekarang.
        Aku sampai didepan ruang UGD, mencari dimana Deo berada. Ditengah aku yang terus saja menangis dan mata yang berusaha mencari, tiba-tiba seseorang menyapaku.
“Mbak? Yang pacarnya Mas Mahendra?
“Dimana Deo?” tanyaku
“Didalem sana mbak, lagi diurusin pak dokter” jawab laki-laki itu tetap dengan logat semarangnya.
        Aku melihat Deo sekilas sebelum seorang suster menutup kaca itu dengan tirai. Deo melihatku, dia tersenyum. Aku tidak mungkin salah lihat, dia tersenyum padaku waktu itu. Senyum terakhir dan termanis yang aku tau bertahun-tahun terakhir.
        Aku luruh ketanah, aku menangis tersedu-sedu tanpa peduli beberapa pandangan suster yang melihatku aneh. Sekali dua kali telefonku berbunyi, tak kuhiraukan. Bahkan, telefon aku matikan, dan aku terus menangis, masih menangis bahkan sampai saat aku menceritakan ini.
        Aku berminggu-minggu mogok makan. Peristiwa itu adalah hari dimana hampir seluruh semangat hidupku hilang. Ayah dan Ibu berkumpul hari ini, menguatkan anaknya yang baru saja kehilangan seseorang yang amat dicintainya. Tapi tetap saja, tangisku tak pernah bisa berhenti. Hanya Deo, hanya ia satu-satunya yang bisa meredakan tangisku hanya dengan peluknya. Hanya Deo, Takkan pernah ada yang bisa menggantikannya sampai kapanpun.
        Ku kunjungi rumah barunya setiap hari, rumah yang memisahkan aku dan deo dalam dunia yang berbeda. Wulan, sahabatku itulah yang selalu menemaniku menjenguk Deo hampir setiap hari. Satu-satunya orang yang tak pernah kutolak jika ingin menemaniku menjenguk kekasihku: Deo. Satu bulan kemudian aku harus kembali kesemarang, kuliahku sudah entah menjadi apa akhir-akhir ini. Berbulan-bulan aku lebih banyak diam dikelas, melamun. Nilai akhirku benar-benar menurun. Hidupku kacau, emosiku naik turun. Setiap sebulan sekali aku pulang, untuk menjenguk Deo. Rumahku dan Ia tidak terlampau jauh, hanya butuh waktu setengah jam menggunakan sepeda motor. Aku biasanya menjenguk Deo ketika sore, lalu pergi ke pantai seperti ini jika sendirian. Menghabiskan senja, kegiatan wajibku setiap pulang dari makam Deo.
        Sepeninggal Deo, aku betah berlama-lama sendiri. Dari sekian lelaki yang mencoba mendekatiku, kutolak mentah-mentah bahkan sebelum aku mencoba mengenal mereka. Aku takut, aku tidak mau kenanganku dengan Deo akan tergeser bila aku memulai cerita baru dengan orang lain. Aku takut mereka semua hanya akan menyakiti daripada membahagiakan.

Tak pernah ada rasa yang sama setelah sebuah kepergian. Tak pernah ada hati yang sama setelah sebuah kehilangan.

        Aku habiskan hari-hariku dengan menulis, ku habiskan waktuku untuk menceritakan ulang dari awal sampai akhir waktu yang telah tercipta antara aku dan Deo. Sering pula kuhabiskan malam hanya dengan duduk dibalkon melihat langit serta bulan, berharap dimanapun Deo berada, semoga ia masih tetap mengingatku.
        Sering kali dalam senja pula, kutitipkan doa untuknya. Kepada seseorang yang entah berada dimana sekarang. Bertanya, senja seperti apa yang ia lihat disana. Apakah sama seperti senja yang aku lihat, apakah doa atas rindu-rinduku bisa tersampaikan lewat angin maupun langit yang menguning? Entahlah.

Teruntuk kau yang jauh disana, yang entah masih mengingatku atau tidak. Kutitipkan rindu lewat senja setiap hari. Kubilang: Aku mencintaimu.

You May Also Like

0 komentar

Pages