Dia Pasti Datang

Hujan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. Sebab air mataku bersatu membasahi bumi. Aku menangis, bahkan dengan aku yang tak mengerti perihal sebabnya. Beberapa hari ini aku banyak sekali memikirkan sesuatu. Perihal ayah dan juga ibu, bagaimana aku bisa membahagiakannya atau sekedar tidak membuatnya kecewa. Juga perihal kakak dan adikku yang terpisahkan beberapa puluh kilo bersamaku beberapa tahun ini, apakah mereka merindukanku? Juga perihal laki-laki yang berada di belahan bumi sebelah mana, aku tidak tahu. Akhir-akhir ini aku sering sekali menjadikanmu hadir dalam angan. Apakah laki-laki itu adalah kamu, yang berada di sebelah sana, yang akhir-akhir ini kembali dan melukis senyumku pada langit yang biru. Cerita kita benar-benar belum berakhir, katamu. Katamu kita tidak pernah berpisah, hanya langkah kita saja yang terkadang berbeda.
Perihal masa depan, aku benar-benar mengkhawatirkannya. Apakah laki-lakiku akan tetap mengijinkanku menengok ibu sekali dua kali. Apakah duniaku akan tetap baik baik saja setelah aku berada dalam pelukannya. Apakah luka itu akan datang lagi setelah beberapa kali tangisku hadir sebab karenanya. Teruntuk ayah dan ibu, apakah laki-lakiku juga bisa mencintai mereka selayaknya aku?
Ayah dan ibu tidak pernah memaksaku untuk memilih siapapun imamku nanti, mereka hanya sedikit sekali menasehati. Perihal laki-laki baik yang harus mendampingiku sampai tua. Tapi aku juga khawatir, apakah aku sudah menjadi perempuan baik akhir-akhir Ini. Apa aku pantas mendapatkannya?
Seorang teman pernah bercerita padaku. Bahwa suatu saat aku akan menemukannya dalam perjalananku memperbaiki diri. Sempat aku bertanya, apakah aku pantas di jadikan sebagai tujuan, bukan pilihan? Lalu, temanku bercerita.
Ia bilang, Laki-laki yang berada disampingku sekarang, adalah laki-laki yang teramat baik setelah melewati banyak sekali keburukan. Waktu bisa merubah segalanya, jangan pernah kau lupakan itu. Aku bukan perempuan baik, kau tau, aku pernah mematahkan beberapa hati hanya karena keegoisanku. Aku berada dalam titik kesendirian saat ia datang, membawa pelangi kemudian di kanvas hidupku. Ia membuatku percaya bahwa masih ada laki-laki baik di dunia ini, setelah hatiku mati suri dalam waktu yang kukira panjang, ia mampu menghidupkanku kembali. Aku jatuh cinta. Kita tidak perlu khawatir perihal masa depan, apalagi perihal siapapun yang akan menemanimu sampai rambut di kepalamu berubah menjadi putih. Belajarlah menerima apapun yang akan terjadi padamu. Hidup ini adalah perang, apalagi perihal cinta dan juga masa depan. Jadilah dirimu sendiri, lupakan cerita dongeng mengenai kamu harus begini dan begitu. Tak usahlah memaksa lelakimu harus seperti apa. Tunggu saja, tunggu ia mendatangi ayah dan ibumu, bukan mendatangimu. Dia adalah jawaban dari segala pertanyakan yang sudah kau ajukan pada semesta akhir-akhir ini. Menunggulah sebentar, laki-laki itu akan datang. Dia pasti datang.

You May Also Like

1 komentar

Pages