Pos Cinta TRIBU7E: Dari Sore Untuk Senja

Kepada, 
Yang biasa ku sebut "Lelaki Senja"

Bagaimana kabarmu? Kudoakan, semoga selalu baik. Bagaimana perasaanmu? Kudoakan, semoga tak sehancur aku. Sudah lama, sejak perpisahan itu (yang tak pernah bisa ku sebut demikian) tak ada temu di antara kau dan aku.
Sudah lama, sejak segalanya berakhir (yang masih tak bisa ku sebut demikian) tak ada lagi pesan yang ku terima sebagai tanda segalanya akan berakhir baik. Nyatanya, kita memang tak pernah baik-baik saja. Bahkan sebelum segalanya akhirnya bermula.
Aku tidak bermaksud mengganggu tidur lelapmu, sama sekali tidak. Aku hanya ingin menjadi hujan rintik-rintik, yang tiada kau rasa namun meninggalkan jejak esok paginya.
Sudah lama, sejak kau patahkan hatiku (yang tak bisa ku jelaskan bagaimana rasanya) aku masih sibuk dengan diriku sendiri, terlalu takut untuk merasakan lagi sakitnya di tinggal pergi.
Sudah lama, sejak kau bilang tak lagi ingin bersamaku (yang masih tak bisa ku jelaskan bagaimana rasanya) aku masih sibuk menerka-nerka, apakah kau juga terkadang merindu, seperti yang sering kulakukan meski perih, lagi dan lagi.
Masih ingat tentang kita yang mengejar matahari terbit dan terbenam di atas bukit? Jika lupa, bisakah kau ajarkan bagaimana caranya? Sebab otakku, tiba-tiba menjadi bebal ketika ku perintahkan untuk melupakanmu.
Masih ingat tentang canda yang hadir di tengah kita dengan tenda sebagai saksinya? Jika lupa, bisakah kau ajarkan bagaimana caranya? Sebab pikiranku, tiba-tiba menjadi tuli ketika ku perintahkan untuk melupakanmu.
Kepada lelaki senja, yang mungkin masih sibuk mencari matahari terbit dan terbenam. 
Bisakah aku meminta satu hal? Untuk yang terakhir, aku berjanji. Bisakah kau membuatku lupa tentang kita? Tentang kau dan aku, juga segalanya.

Tertanda,
Yang biasa kau sebut "Perempuan Sore"

You May Also Like

0 komentar

Pages